Jumat, 12 Februari 2016

proses transfer of knowledge dari seorang guru kepada murid



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah.
Pendidikan adalah suatu proses transfer of knowledge dari seorang guru kepada murid, namun ketika dicermati dari subtansi pendidikan itu sendiri, esensi pendidikan justru tidak terletak pada aspek transfering (perpindahannya), melainkan terletak pada aspek proses dalam mentransfernya, sehingga proses merupakan satu aspek yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan, yang pada gilirannya bermuara pada out-put pendidikan itu sendiri dengan standarisasi evaluasi yang selektif, diagnosis dan penempatan.[1] Manusia dituntut untuk terus belajar kapanpun, dimanapun, dengan siapapun karena belajar tak ada batasan usianya. Sehingga belajar merupakan proses untuk menjadi manusia dengan pribadi yang lebih baik serta menjadikan bekal dalam menjawab tantangan kehidupan
Sebuah pendidikan yang berhasil merupakan kolektifitas mekanis dari proses pengajaran yang berdasar pada tujuan, proses dan evaluasi. Sedangkan pengajaran dapat berhasil itu tergantung sejauhmana seorang guru mampu mengelola dan mengolah materi yang akan diajarkan beserta memilih metode dan teknik yang paling efektif, agar pengajaran yang dilakukan oleh seorang guru tersebut dapat dengan cepat serta mudah diterima oleh muridnya.
Keberhasilan anak didik dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah banyak ditentukan kemampuannya dalam membaca. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan disajikan dalam bentuk bahasa tulis sehingga menuntut anak harus melakukan aktivitas membaca guna memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, pembelajaran membaca mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam pendidikan dan pengajaran. Kemampuan membaca ini tidak dapat diperoleh secara alamiah, tetapi melalui proses pemebelajaran yang sebagian merupakan tanggung jawab guru. Dengan demikian, guru dituntut untuk dapat membantu siswa dalam pengembangan dan pemahaman kemampuan membacanya.
Banyak sekali informasi yang dapat digali dari kegiatan membaca. Orang yang banyak memebaca akan mendapatkan suatu pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan orang yang jarang atau bahkan tidak pernah membaca. Melalui pengetahuan yang dimiliki itu, orang dapat mengkomunikasikan kembali informasi yang dimiliki dalam bentuk lisan atau tulisan. Sehingga dengan kata lain, membaca dapat membantu pula seseorang untuk meningkatkan ketrampilan berkomunikasi dalam bentuk lain. Apalagi dalam masyarakat yang berteknologi modern seperti sekarang ini, seseorang haruslah banyak membaca agar dapat mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi karena kesulitan dalam membaca merupakan cacat yang serius dalam kehidupan. Dengan demikan kemampuan membaca sangat peting peranannya dalam membantu anak mempelajari berbagai hal.
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuia dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.[2]
Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan ajar yang berujung pada tercipnya proses belajar. Pengertian mengajar tersebut mengandung arti bahwa guru diharapkan dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar lingkungan kelas, guna menunjang kegiatan belajar mengajar.
Pemahaman tentang pengertian dan pandangan mengajar akan banyak mempengaruhi peranan dan akitifitas guru dalam mengajar dan aktifitas siswa dalam belajar. Dengan adanya guru yang berkinerja baik mendorong seseorang atau siswa berusaha memacu dirinya untuk lebih maju dan berprestasi dalam meraih dan mencapai ilmu pengetahuan.
Komponen yang paling pokok dari pekerjaan guru adalah mengajar dan pekerjaan siswa ialah belajar. Namun demikian juga ikut bertanggung jawab dalam kegiatan belajar siswa. Dengan cara memberi petunjuk dan metode cara belajar yang efektfi dan efisien.
Guru yang berkinerja baik adalah guru yang menunaikan tugasnya dengan baik atau dapat bertindak sebagai tenaga penagajar yang efektif, mampu menggunakan berbagai bentuk metode maupun tehnik mengajar sehingga peserta didik yang mendapatkan pengajaran tersebut akan timbul perhatian dan motivasi belajar. Dengan keahlian guru dalam menggunakan tehnik maupun metode mengajar secara bergantian (mengajar dengan menggunakan variasi) bisa menarik peserta didik untuk selalu memperhatian. Pada akhirnya motivasi akan terbentuk pada diri anak sehingga proses belajar mengajar akan terasa hidup manakala seorang guru menggunakan metode monoton, kemungkinan terbesar adalah akan muncul kejenuhan, dan berujung pada kurang diperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu seorang guru diharapkan pandai-pandai dalam menggunakan ketrampilan mengajar sesuia dengan materi dan metode yang sesuai sehingga tercipta motivasi dan kemampuan berfikir siswa dan minat yang tinggi. Kondisi tersebut adalah wahana bagi proses belajar mengajar berjalan lancar dan men ingkatkan kemampuan berfikir guna mendapatkan prestasi atau hasil belajar dapat diraih sesuai dengan cita-cita yang diingkan.
Metode adalah cara yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Karena mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap kali mengajar, guru selalu menggunakan metode, metode yang digunakan itu tidak asal-asalan, melainkan sesuai dengn tujuan pembelajaran yang dapat dicapai dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan standar keberhasilan yang terpatri di dalam suatu tujuan. Metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bermacam-macam penggunaanya, tergantung dari rumusan tujuan. Penggunaan metode yang bervariasi dimaksudkan untuk menggairahkan belajar anak didik, dan dapat menjembatani dan memudahkan pemahaman anak didik. Dengan bergairahnya belajar, anak didik tidak sukar untuk mencapai tujuan, tetapi anak didiklah dengan sadar untuk mencapai tujuan.[3] Untuk mengatasi permasalahan dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru mampu memilih model pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang disampaikan, khususnya mata pelajaran sejarah kebudayaan islam.
Membimbing para peserta didik untuk sama-sama terlibat langsung secara aktif dalam proses pembelajaran guru diharapkan mampu membantu peserta didik untuk mendorong agar peserta didik lebih bisa meningkatkan minatnya dalam membaca, khususnya dalam membaca pemahaman tentang materi Sejarah Kebudayaan Islam.
Keadaan peserta didik dalam  kegiatan pembelajaran sejarah kebudayaan islam di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara sudah cukup baik  dalam memahami materi Sejarah Kebudayaan Islam, maka dari itu di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara sudah ada model pembelajaran membaca total dalam proses  kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru di dalam kelas, dimana dalam kegiatan pembelajaran model membaca total yang diterapkan di kelas VIII MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara ini dalam penerapannya biasanya seorang guru membuka pembelajaran, melakukan apersepsi tentang secara singkat berupa tujuan dalam membaca pemahaman. Dalam membaca pemahaman untuk menentukan ide pokok suautu bacaan haruslah melalui baca-layap dana baca tetap dengan melibatkan pengliatan, konsetrasi dan intelektual. Setelah guru selsai memberikan apersepsi, peserta didik diminta untuk membaca teks selama 2-3 menit dengan menggunakan teknik baca-layap (skimming), yaitu membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum suatu bacaan atau bagiannya. Isi umum yang dimaksud ini adalah informasi fokus, tetapi mungkin juga hanya sebagai dasar untuk menduga apakah bacaan atau bagia bacaan itu berisi informasi yang telah ditentukan. Kemudian menggunakan teknik baca tetap (scanning), yaitu membaca membaca dengan cepat dan dengan memusatkan pikiran untuk menemukan bagian yang berisi informasi fokus yang telah ditentukan, dan seterusnya membaca bagian itu dengan teliti seingga informasi fokus itu ditemukan tepat dan dapat dipahami benar.
Dalam hal ini, setelah peserta didik selsai membaca kalimat yang memberikan makna kepadanya, peserta didik diminta secepatnya merenung kalimat tersebut dan menghubungkannya dengan pengalaman yang dimiliki agar kalimat yang dibaca dapat dipahami benar maksudnya. Dan juga peserta didik diminta untuk mengingat kembali makna yang merupakan isi informasi yang telah dibaca sebelumnya . Kemudian peserta didik ditanyakan langsung tentang informasi fokus yang terdapat dalam teks bacaan setelah peserta didik selesai membaca teks bacaan. Dalam hal, ini peserta didik diminta untuk menjawab pertanyaan yang telah ditentukan sebagai latihan memahami informasi fokus yang terdapat dalam teks bacaan. Setelah selsai menjawab, peserta didik diminta untuk menggarisbawahi hal-hal penting yang teradapat dalam teks bacaan dan mencatatnya setelah selesai membaca.
Penerapan model membaca total ini dilaksanakan hampir setiap kali pertemuan. Hal itu dilakukan agar peserta didik terbiasa untuk membaca. Karena membaca merupakan gudang informasi bagi peserta didik sendiri untuk bisa memahami suatu mata pelajaran khususnya mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Adanya penggunaan model pembelajaran membaca total tersebut dapat  memicu peserta didik agar lebih terbiasa untuk membaca suatu teks bacaan dan sehingga pesert didik lebih bisa memahami tentang sejarah seiring ditambahnya dengan metode ceramah.[4] Dengan demikian model membaca secara total memiliki andil yang sangat penting dalam mingkatkan pemahaman pesrta didik. dengan membaca total peserta didik diharapkan bisa lebih memahami tentang materi pembelajaran khususnya tentang Sejarah Kebudayaan Islam.

B.  Rumusan Masalah
 Suatu penelitian, rumusan masalah akan menentukan arah peneliti itu sendiri. Perumusan masalah secara jelas akan dapat dipergunakan sebagai pedoman dan batasan dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Dan adanya masalah ini akan dijadikan dasar untuk membuktikan sehingga dalam perumusan pembuktiannya tidak berlarut-larut atau bahkan menyimpang dari tujuan penelitian. Yaitu dalam penelitian ini difokuskan pada sebuah permasalahan yaitu :
1.      Bagaimana penerapan model membaca total pada peserta didik di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara?
2.      Bagaiman pemahaman peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara?
3.      Bagaimana pengaruh model membaca total terhadap penigkatan pemahaman peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Mts Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara ?

C.  Tujuan Penelitian
Setiap mengadakan suatu kegiatan pasti tidak lepas dari tujuan dan manfaat apa yang ingin dicipainya, begitu juga dalam penelitian yang akan penulis laksanakan mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana Model Membaca Total terhadap peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran SKI di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara.
Sedangkan tujuan-tujuan dari peneliti ini adalah :
1.      Penerapan model membaca total pada peserta didik di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara
2.      Pemahaman peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara
3.      Untuk mengetahui adanya pengaruh model membaca total terhadap peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara

D.  Manfaat Peneliti
Penilian ini ada dua manfaat yang dapat diambil, diantaranya manfaat praktis dan maanfaat teoritis.
1.      Manfaat Teoritis
Sebagai pembuktian,  jika semakin baik tingkat penggunaan model membaca total, maka akan semakin tinggi pemahaman  peserta didik
2.      Manfaat Praktis
a.    Bagi Madrasah
     Sebagai bahan masukan bagi lembaga pendidikan pada umumnya dan khususnya bagi lembaga pendidikan dimana tempat penelitian ini berlangsung, mengenai penerapan model membaca total untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs. Nurul Islam Jepara.
b.    Bagi Guru Fiqih
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam rangka meningkatkan pemahaman  peserta didik dalam pembelajaran dengan menggunakan model membaca total di MTs. Nurul Islam Jepara.
c.    Bagi Peserta Didik
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk dapat meningkatkan pemahaman materi  peserta didik dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan menggunakan model membaca total di MTs. Nurul Islam Jepara.





[1] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, Cet. XII,1996.  Hlm. 9.
[2] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hlm.123
[3] Saiful Bahri Djamarah dan Azwam Zain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hlm. 3-4

[4] Hasil wawancara dengan Bapak Abdul Ghofur, Selaku Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara, pada tanggal 9Maret 2015 di MTs Nurul islam Kriyan Kalinyamatan Jepara.