BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah.
Pendidikan adalah suatu proses transfer of knowledge dari seorang
guru kepada murid, namun ketika dicermati dari subtansi pendidikan itu sendiri,
esensi pendidikan justru tidak terletak pada aspek transfering (perpindahannya),
melainkan terletak pada aspek proses dalam mentransfernya, sehingga proses
merupakan satu aspek yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan,
yang pada gilirannya bermuara pada out-put pendidikan itu sendiri dengan
standarisasi evaluasi yang selektif, diagnosis dan penempatan.[1]
Manusia
dituntut untuk terus belajar kapanpun, dimanapun, dengan siapapun karena
belajar tak ada batasan usianya. Sehingga belajar merupakan proses untuk
menjadi manusia dengan pribadi yang lebih baik serta menjadikan bekal dalam
menjawab tantangan kehidupan
Sebuah pendidikan yang berhasil merupakan kolektifitas mekanis dari proses
pengajaran yang berdasar pada tujuan, proses dan evaluasi. Sedangkan pengajaran
dapat berhasil itu tergantung sejauhmana seorang guru mampu mengelola dan
mengolah materi yang akan diajarkan beserta memilih metode dan teknik yang
paling efektif, agar pengajaran yang dilakukan oleh seorang guru tersebut dapat
dengan cepat serta mudah diterima oleh muridnya.
Keberhasilan anak didik dalam mengikuti kegiatan
belajar-mengajar di sekolah banyak ditentukan kemampuannya dalam membaca.
Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan disajikan dalam bentuk
bahasa tulis sehingga menuntut anak harus melakukan aktivitas membaca guna memperoleh
pengetahuan. Oleh karena itu, pembelajaran membaca mempunyai kedudukan yang
sangat strategis dalam pendidikan dan pengajaran. Kemampuan membaca ini tidak
dapat diperoleh secara alamiah, tetapi melalui proses pemebelajaran yang
sebagian merupakan tanggung jawab guru. Dengan demikian, guru dituntut untuk
dapat membantu siswa dalam pengembangan dan pemahaman kemampuan membacanya.
Banyak sekali
informasi yang dapat digali dari kegiatan membaca. Orang yang banyak memebaca
akan mendapatkan suatu pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan orang yang
jarang atau bahkan tidak pernah membaca. Melalui pengetahuan yang dimiliki itu,
orang dapat mengkomunikasikan kembali informasi yang dimiliki dalam bentuk
lisan atau tulisan. Sehingga dengan kata lain, membaca dapat membantu pula
seseorang untuk meningkatkan ketrampilan berkomunikasi dalam bentuk lain.
Apalagi dalam masyarakat yang berteknologi modern seperti sekarang ini,
seseorang haruslah banyak membaca agar dapat mengikuti perkembangan dan
kemajuan teknologi karena kesulitan dalam membaca merupakan cacat yang serius
dalam kehidupan. Dengan demikan kemampuan membaca sangat peting peranannya
dalam membantu anak mempelajari berbagai hal.
Guru adalah
salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar ikut berperan dalam
usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh
karena itu guru merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan
kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuia dengan tuntutan masyarakat yang
semakin berkembang.[2]
Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar
mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha
mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak
didik dan bahan ajar yang berujung pada tercipnya proses belajar. Pengertian
mengajar tersebut mengandung arti bahwa guru diharapkan dapat berperan sebagai
organisator kegiatan belajar siswa dan hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan,
baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar lingkungan kelas, guna menunjang
kegiatan belajar mengajar.
Pemahaman
tentang pengertian dan pandangan mengajar akan banyak mempengaruhi peranan dan
akitifitas guru dalam mengajar dan aktifitas siswa dalam belajar. Dengan adanya
guru yang berkinerja baik mendorong seseorang atau siswa berusaha memacu
dirinya untuk lebih maju dan berprestasi dalam meraih dan mencapai ilmu pengetahuan.
Komponen yang paling pokok dari pekerjaan guru adalah mengajar dan
pekerjaan siswa ialah belajar. Namun demikian juga ikut bertanggung jawab dalam
kegiatan belajar siswa. Dengan cara memberi petunjuk dan metode cara belajar
yang efektfi dan efisien.
Guru yang berkinerja baik adalah guru yang menunaikan tugasnya dengan baik
atau dapat bertindak sebagai tenaga penagajar yang efektif, mampu menggunakan
berbagai
bentuk metode maupun tehnik mengajar sehingga peserta didik yang mendapatkan
pengajaran tersebut akan timbul perhatian dan motivasi belajar. Dengan keahlian
guru dalam menggunakan tehnik maupun metode mengajar secara bergantian
(mengajar dengan menggunakan variasi) bisa menarik peserta didik untuk selalu
memperhatian. Pada akhirnya motivasi akan terbentuk pada diri anak sehingga
proses belajar mengajar akan terasa hidup manakala seorang guru menggunakan
metode monoton, kemungkinan terbesar adalah akan muncul kejenuhan, dan berujung
pada kurang diperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu
seorang guru diharapkan pandai-pandai dalam menggunakan ketrampilan mengajar
sesuia dengan materi dan metode yang sesuai sehingga tercipta motivasi dan
kemampuan berfikir siswa dan minat yang tinggi. Kondisi tersebut adalah wahana
bagi proses belajar mengajar berjalan lancar dan men ingkatkan kemampuan
berfikir guna mendapatkan prestasi atau hasil belajar dapat diraih sesuai
dengan cita-cita yang diingkan.
Metode adalah
cara yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Karena
mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap kali
mengajar, guru selalu menggunakan metode, metode yang digunakan itu tidak
asal-asalan, melainkan sesuai dengn tujuan pembelajaran yang dapat dicapai
dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan standar keberhasilan yang
terpatri di dalam suatu tujuan. Metode yang dapat digunakan dalam kegiatan
belajar mengajar bermacam-macam penggunaanya, tergantung dari rumusan tujuan.
Penggunaan metode yang bervariasi dimaksudkan untuk menggairahkan belajar anak
didik, dan dapat menjembatani dan memudahkan pemahaman anak didik. Dengan
bergairahnya belajar, anak didik tidak sukar untuk mencapai tujuan, tetapi anak
didiklah dengan sadar untuk mencapai tujuan.[3]
Untuk mengatasi permasalahan dan guna mencapai tujuan pendidikan secara
maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru mampu memilih model
pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang
disampaikan, khususnya mata pelajaran sejarah kebudayaan islam.
Membimbing para
peserta didik untuk sama-sama terlibat langsung secara aktif dalam proses
pembelajaran guru diharapkan mampu membantu peserta didik untuk mendorong agar
peserta didik lebih bisa meningkatkan minatnya dalam membaca, khususnya dalam
membaca pemahaman tentang materi Sejarah Kebudayaan Islam.
Keadaan peserta
didik dalam kegiatan pembelajaran
sejarah kebudayaan islam di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara sudah
cukup baik dalam memahami materi Sejarah Kebudayaan Islam, maka dari itu di MTs Nurul
Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara sudah ada model pembelajaran membaca total
dalam proses kegiatan belajar mengajar
yang dilakukan oleh guru di dalam kelas, dimana dalam kegiatan pembelajaran model
membaca total yang diterapkan di kelas VIII MTs Nurul
Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara
ini dalam penerapannya biasanya seorang guru membuka
pembelajaran, melakukan apersepsi tentang secara singkat berupa tujuan dalam
membaca pemahaman. Dalam membaca pemahaman untuk menentukan ide pokok suautu
bacaan haruslah melalui baca-layap dana baca tetap dengan melibatkan
pengliatan, konsetrasi dan intelektual. Setelah guru selsai memberikan
apersepsi, peserta didik diminta untuk membaca teks selama 2-3 menit dengan
menggunakan teknik baca-layap (skimming), yaitu membaca dengan cepat
untuk mengetahui isi umum suatu bacaan atau bagiannya. Isi umum yang dimaksud
ini adalah informasi fokus, tetapi mungkin juga hanya sebagai dasar untuk
menduga apakah bacaan atau bagia bacaan itu berisi informasi yang telah
ditentukan. Kemudian menggunakan teknik baca tetap (scanning), yaitu
membaca membaca dengan cepat dan dengan
memusatkan pikiran untuk menemukan bagian yang berisi informasi fokus yang
telah ditentukan, dan seterusnya membaca bagian itu dengan teliti seingga
informasi fokus itu ditemukan tepat dan dapat dipahami benar.
Dalam hal ini,
setelah peserta didik selsai membaca kalimat yang memberikan makna kepadanya,
peserta didik diminta secepatnya merenung kalimat tersebut dan menghubungkannya
dengan pengalaman yang dimiliki agar kalimat yang dibaca dapat dipahami benar
maksudnya. Dan juga peserta didik diminta untuk mengingat kembali makna yang
merupakan isi informasi yang telah dibaca sebelumnya . Kemudian peserta didik
ditanyakan langsung tentang informasi fokus yang terdapat dalam teks bacaan
setelah peserta didik selesai membaca teks bacaan. Dalam hal, ini peserta didik
diminta untuk menjawab pertanyaan yang telah ditentukan sebagai latihan
memahami informasi fokus yang terdapat dalam teks bacaan. Setelah selsai
menjawab, peserta didik diminta untuk menggarisbawahi hal-hal penting yang
teradapat dalam teks bacaan dan mencatatnya setelah selesai membaca.
Penerapan model membaca total ini
dilaksanakan hampir setiap kali pertemuan. Hal itu
dilakukan agar peserta didik terbiasa untuk membaca. Karena membaca
merupakan gudang informasi bagi peserta didik sendiri untuk bisa memahami suatu
mata pelajaran khususnya mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Adanya penggunaan model
pembelajaran membaca total
tersebut dapat memicu peserta didik agar lebih
terbiasa untuk membaca suatu teks bacaan dan sehingga pesert didik lebih bisa
memahami tentang sejarah seiring ditambahnya dengan metode ceramah.[4]
Dengan demikian model membaca secara total memiliki andil yang sangat penting
dalam mingkatkan pemahaman pesrta didik. dengan membaca total peserta didik
diharapkan bisa lebih memahami tentang materi pembelajaran khususnya tentang
Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Rumusan Masalah
Suatu penelitian, rumusan masalah akan
menentukan arah peneliti itu sendiri.
Perumusan masalah secara jelas akan dapat dipergunakan sebagai pedoman dan
batasan dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Dan adanya masalah ini
akan dijadikan dasar untuk membuktikan sehingga dalam perumusan pembuktiannya
tidak berlarut-larut atau bahkan menyimpang dari tujuan penelitian. Yaitu dalam
penelitian ini difokuskan pada sebuah permasalahan yaitu :
1.
Bagaimana
penerapan model membaca total pada peserta didik di MTs Nurul Islam Kriyan
Kalinyamatan Jepara?
2.
Bagaiman
pemahaman peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs
Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara?
3.
Bagaimana pengaruh
model membaca total terhadap penigkatan pemahaman peserta didik pada mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Mts Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan
Jepara ?
C. Tujuan
Penelitian
Setiap
mengadakan suatu kegiatan pasti tidak lepas dari tujuan dan manfaat apa yang
ingin dicipainya, begitu juga dalam penelitian yang akan penulis laksanakan
mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana Model Membaca Total terhadap
peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran SKI di MTs Nurul Islam Kriyan
Kalinyamatan Jepara.
Sedangkan tujuan-tujuan dari peneliti ini adalah :
1.
Penerapan model
membaca total pada peserta didik di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara
2.
Pemahaman
peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurul Islam
Kriyan Kalinyamatan Jepara
3.
Untuk mengetahui
adanya pengaruh model membaca total terhadap peningkatan pemahaman siswa pada
mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurul Islam Kriyan Kalinyamatan
Jepara
D. Manfaat Peneliti
Penilian
ini ada dua manfaat yang dapat diambil, diantaranya manfaat praktis dan
maanfaat teoritis.
1.
Manfaat Teoritis
Sebagai
pembuktian, jika semakin baik tingkat
penggunaan model membaca total, maka akan semakin tinggi pemahaman peserta didik
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi Madrasah
Sebagai bahan masukan bagi lembaga
pendidikan pada umumnya dan khususnya bagi lembaga pendidikan dimana tempat
penelitian ini berlangsung, mengenai penerapan model membaca total untuk
meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam di MTs. Nurul Islam Jepara.
b.
Bagi Guru Fiqih
Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan motivasi guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam rangka
meningkatkan pemahaman peserta didik dalam
pembelajaran dengan menggunakan model membaca total di MTs. Nurul Islam Jepara.
c.
Bagi Peserta
Didik
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk dapat
meningkatkan pemahaman materi peserta
didik dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan menggunakan model
membaca total di MTs.
Nurul Islam Jepara.
[1] Suharsimi
Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, Cet.
XII,1996. Hlm. 9.
[2] Sardiman, Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hlm.123
[3]
Saiful Bahri Djamarah dan
Azwam Zain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hlm.
3-4
[4] Hasil
wawancara dengan Bapak
Abdul Ghofur, Selaku Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Kelas VIII di MTs Nurul
Islam Kriyan Kalinyamatan Jepara, pada
tanggal 9Maret 2015
di MTs Nurul islam
Kriyan Kalinyamatan Jepara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar